Searching...
Kamis, 05 Agustus 2021

Adab dan Etika Ketika Daring


 Pandemi covid-19 atau virus corona membuat hampir semua negara menerapkan kebijakan belajar dari rumah atau belajar online. Pandemi covid-19 membuat guru harus memberikan pelajaran secara online, salah satunya menggunakan aplikasi Zoom.

Seorang guru di Malaysia bernama Mustakim Bin Bajoori  yang bahagia akhirnya bisa membuka kelas mengajarnya di Zoom, Beliau langsung menghadapi kenyataan pahit karena tak ada satu pun dari para muridnya yang menghadiri kelas online itu. Kisah pilu itu diungkap oleh anak sang guru, Nur Nuha Marisya Mustakim, di media sosial. Dilansir dari World of Buzz pada Kamis (26/11/2020), Nuha bercerita di Twitter tentang bagaimana tak ada satu pun murid ayahnya yang hadir di kelas online, sehingga guru itu menunggu sendirian.

Nuha juga menuturkan bahwa kelas ayahnya seharusnya dimulai pukul 8.30 pagi, tetapi sampai jam 9 pagi tidak ada satu pun murid yang hadir. Di Malaysia beberapa pelajar menyambi sekolah sambil bekerja untuk menghidupi keluarganya.

Dari kisah tersebut kita dapat menyimpulkan betapa pentingnya Norma, Adab dan Etika dalam belajar. Bagaimana kita memperlakukan seorang guru, bagaimana kita menghargai guru, bagaimana adab kita kepada para pendidik. Hal seperti itu tidak akan terjadi apabila kita sebagai seorang murid mempunyai kesadaran untuk memperlakukan dan menghargai guru atau pengajar kita. Sebagai murid kita harus mempunyai norma atau adab kepada para pendidik entah bagaimana sifat pendidik itu, entah mereka baik atau tegas kepada anak didiknya. Adab dan normal adalah wajib hukumnya.

Adab,Norma dan Etika baiknya diajarkan sedari diri bahkan sebelum anak menginjak sekolah formal. Kita bisa memulai mengajari dari lingkup keluarga, salah satunya mengajarkan anak untuk membiasakan menghormti orang yg lebih tua. Memang mengajari anak suatu kebiasaan baru akan sangat sulit ibarat pepatah berkata “Belajar di waktu kecil seperti melukis diatas batu , belajar di waktu besar seperti melukis di atas air” maknanya adalah apabila kita mengajari sedari kecil memang terasa sangat susah akan tetapi akan membekas di ingatan sang anak sampai mereka dewasa bahkan tua.

Guru adalah seseorang yang digugu dan ditiru. Sejatinya orangtua kita adalah guru. Ulama adalah guru. Orang lain yang  kita tidak kenal lalu menunjukkan satu kebaikan juga adalah guru. Bahkan Nabi SAW sendiri mengaku sebagai guru, seperti sabdanya, “Sungguh aku telah diutus (oleh Allah SWT) sebagai seorang guru.” (HR. Ibnu Majah).

Pahala memuliakan Guru adalah surga. Nabi SAW bersabda seperti yang dikutip dalam Lubab al-Hadits  oleh Imam Jalaluddin al-Suyuthi, “Barangsiapa memuliakan orang berilmu (guru), maka sungguh ia telah memuliakan aku. Barangsiapa memulikan aku, maka sungguh ia telah memuliakan Allah. Barangsiapa memuliakan Allah, maka tempatnya di surga”.

Surga adalah satu tempat yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga itu “Disiapkan untuk orang-orang bertakwa.” (QS. Ali Imran/3: 133). Dalam ayat lain disebutkan bahwa surga itu, “Disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.” (QS. al-Hadid/57: 21). Maka beruntungah orang yang memuliakan guru karena akan memperoleh surga.

Kemudia dalam hadist lain disebutkan;

 

لَـيْسَ مِنَّا مَنْ لَـمْ يُجِلَّ كَبِيْـرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيْـرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِـمِنَا حَقَّهُ

 

“Tidak termasuk golongan kami; orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak seorang ulama.”

0 komentar:

Posting Komentar

 
Back to top!